Qua

Reader

A list of all postings of all blogs on Qua where the author has configured the blog to publish on this page.

from ditokp

Gambar Judul Film

Latar Belakang Penulis

Halo, nama saya Dito Kurnia Pratama. Saya sebenarnya bukan animator, belum tepatnya. Sekarang masih berkuliah di jurusan Animasi. Walaupun begitu, saya ingin membuat review film-film animasi, sambil juga mengasah untuk jadi animator. Saya disini tidak ingin menggurui atau menjadi yang paling benar, jika ada kesalahan didalam review ini, kalian bisa mengirimkan kritik & saran ke email saya atau DM ke Instagram saya: ditokurniapratama. Saya lebih sarankan ke email, karena memang saya sekarang lebih jarang aktif di media sosial. Disini saya akan mencoba membuat review yang gampang dicerna. Jika ada yang bingung, juga bisa ditanyakan ke alamat yang sudah saya kasih diatas. Kalian juga bisa mengunduh review ini dalam versi PDF disini. Sekian, selamat membaca review saya.

Review Titus : Mystery of the Enygma

Latar Belakang Film secara Singkat

  • Dibuat: MNC Animation
  • Distributor: MNC Picture
  • Sutradara: Dineshkumar Subashchandra
  • Produser: Sharma Sanjay Bhardwaj
  • Penulis: Doug Sinclair, Liliana Tanoesoedibjo
  • Pengisi Suara: – Titus – Arbani Yasiz – Bobit – Lukman Sardi – Fyra – Ranty Maria – Bulpan – Robby Purba – Jessica – Jessica Tanoesoedibjo
  • Tanggal Tayang: 9 Januari 2020
  • Jumlah Penonton (Terakhir dicek tanggal 15 Januari 2020 jam 01:12): 87.372 Penonton
  • Trailer Film: YouTube

Sumber:WikipediaWebsite Film Indonesia

Screenshot Trailer dan Gambar Film

Bisa dilihat disini.

Suasana Bioskop dan Tanggal Menonton

Saya menonton film ini pada tanggal 14 Januari 2020, hari Selasa jam 16:55, 5 hari setelah film ini dirilis. Walaupun di kota tempat saya nonton banyak juga bioskop, tapi film ini hanya tayang di satu bioskop, yaitu di Transmart XXI Sidoarjo.

Sebelum saya berangkat, saya sudah merasakan hawa-hawa nggak enak. Hawa-hawa filmnya ditonton sedikit orang. Alasan itu sebanding saat saya melihat ke aplikasi Cinema XXI yang menunjukkan kursi yang tersedia masih 132 kursi atau belum ada yang beli tiketnya.

Sesampainya di bioskop XXI saya lalu beli tiket, itu sekitar jam 16:30-an. Betul saja, kursinya penuh, penuh dengan warna hijau, yang artinya belum ada satupun yang beli tiket. (Hmm... iya, seingat saya warnanya hijau, di layar untuk milih kursinya, saya agak lupa). Sampai saat pintu bioskopnya dibuka, saya masih sendirian. Saya yang pertama masuk dan duduk di kursi bioskopnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 16:55, waktunya film dimulai. Sesaat sebelum dimulai, ada dua orang masuk, pasangan cowok & cewek. Beberapa detik kemudian, saat iklan-iklan & trailer film diputar, masuk lagi 3 orang, bapak, ibu, dan anaknya yang kira-kira saya menduga masih TK. Lalu masuk lagi dua orang, cowok & cewek lagi.

Sampai filmnya diputar, masih terdapat 8 orang didalam ruangan bioskopnya. Lalu ada seseorang yang masuk. Karena terlalu gelap, saya hanya melihat sedikit siluetnya. Sepertinya perempuan dewasa. Saya tidak tahu itu karyawan bioskop atau bukan. Orang itu duduk dibaris depan. Oh iya, ngomong-ngomong, saya duduk ditengah-tengah, di kursi E7. Ketujuh orang tadi duduk lebih keatas lagi. Balik ke siluet perempuan tadi, setelah kira-kira di tengah film, dia keluar dan tidak kembali lagi... Selamanya... (Hahaha... Bercanda. Dia memang keluar tapi terus saya nggak tau lagi dia kemana dan siapa.)

Saat filmnya selesai, saya tidak menontonnya sampai habis cuma sampai credit title, itu pun nggak lengkap. Saya keluar kedua. Orang pertama yang keluar yaitu keluarga bapak ibu anak tadi. Dan... 2 pasang cowok cewek yang mungkin pacaran itu belum keluar.

Filmnya sendiri berjalan lancar, kecuali ada satu adegan dimana filmnya terlihat pixelated / kotak-kotak gitu, padahal saya lihatnya di bioskop, seharusnya resolusinya tinggi. Lalu ada juga satu adegan dimana filmnya terasa agak lag, jalannya melambat terus normal lagi.

PERINGATAN: SPOILER ALERT!! SETELAH INI BANYAK ADEGAN DALAM FILM YANG SAYA CERITAKAN.

Karakter

Disini saya akan breakdown review saya per karakter atau review dalam konsep / design karakternya. Secara keseluruhan ada beberapa karakter yang kuat dan masih ada yang lemah, yang saya maksud disini penokohannya, karakteristik, dan keunikannya.

Titus

Gambar Titus

Si karakter utama. Seekor tikus. Pekerjaan awalnya bukan langsung menjadi detektif, tapi bekerja di perusahaan koran, seperti di film Spiderman yang diperankan Toby siapa itu. (Maaf saya lupa namanya). Si Titus ini tinggal di tempat anak yatim piatu, dia suka misteri.

Desain karakternya mirip Edogawa Conan dari animasi Jepang, Detective Conan. Memakai kacamata bulat besar. Tapi dibalut dengan tubuh hewan. Namun kepintarannya menurut saya masih kalah jauh dari Conan. Seperti seri detektif klasik lainnya, dia juga memakai kaca pembesar. Dia juga memakai hidungnya untuk mengendus bau-bauan.

Walaupun dia tokoh utama, sampai dimasukkan ke judul film lagi, tapi menurut saya karakternya kurang kuat. Walaupun sering muncul dilayar, karakternya kalah dengan Bobit, si kelinci pesulap. Menurut saya, si Titus ini kurang memberikan arti ke penonton bahwa dia detektif. Detektif yang ditonjolkan yaitu kepintarannya, tapi disini kurang. Saya tidak tau apa karena ini film untuk semua umur jadi digituin atau gimana.

Penceritaan latar belakang Titus menurut saya cukup. Nggak banyak memang, tapi cukup. Oke lah.

Bobit

Gambar Bobit

Si pesulap berbentuk kelinci. Trik sulap dan ilusinya menurut saya bagus, walaupun ada yang nggak realistis alias fantasi. Bobit ini temannya Titus.

Latar belakang karakter ini tidak diceritakan dengan baik. Minim sekali. Scene saat dia muncul juga terasa aneh menurut saya. Dia ada di pinggir jalan sambil main sulap. Banyak yang melihat. Lalu Titus datang menghampiri. Karena udara kota sangat kotor, dia (Bobit) batuk-batuk dan akhirnya sulapnya gagal. Setelah itu Titus bicara dengan Bobit. Titus mengajaknya untuk bertualang bareng, tentunya bertualang mencari Enygma. Dan... baru setelah itu saya sadar kalau Bobit itu temannya Titus. Udah gitu aja, nggak diceritakan latar belakang Bobit bagaimana. Ya... cuma gitu awal ketemuannya sama Titus.

Trik sulap Bobit favorit saya yaitu saat Bobit, Titus, dan Fyra berhasil mencuri miniatur Enygma lalu dikejar musuh disebuah atap gedung di pelabuhan. Karena terdesak didepan sudah tidak ada jalan, Bobit mengeluarkan trik sulap kartunya. Kartunya dilemparkan sehingga membentuk jembatan. Mereka bertiga lalu lari ke atap gedung lainnya lewat kartu tadi.

Trik sulap itu sangat menarik dan mirip dengan trik sulap dari karakter Kaito 1412 (Kaito Kid) dari anime Detective Conan dan Magic Kaito 1412. Bedanya, di kedua anime itu trik sulapnya saya pikir masih realistis. Si Kaito Kid ini berjalan di udara. Aslinya dia hanya pura-pura seperti berjalan di udara. Badannya diikat dengan tali yang terhubung di helikopter diatasnya. Tentu saja yang mengendarai helikopter diatasnya asistennya dia. Dan, karena tinggi dan suasana sudah malam agak mendung gitu, talinya nggak keliatan dari bawah. Masuk akal masuk akal. Untuk Bobit ini, triknya benar-benar fantasi, nggak ada tali ataupun alat apapun yang membantu menyeberang kecuali cuma sebuah kartu yang melayang di udara.

Oke, trik sulap selanjutnya yang saya suka yaitu saat Bobit melawan Bulpan dan anak buahnya. Dia menembakkan kartunya ke muka musuhnya dengan menggunakan tangannya.

Gambar Bobit melemparkan kartunya

Yup, betul sekali. Jika dipikir pikir, mirip sekali dengan karakter Kaito Kid lagi yang juga suka menembakkan kartu, bedanya si Kaito memakai pistol khusus, bukan memakai tangannya langsung.

Gambar Kaito 1412 siap menembakkan kartu dengan pistolnya

Kesimpulannya, karakter ini kuat, unik juga walaupun nggak terlalu disorot seperti Titus. Trik sulap dan ilusinya bisa menghipnotis mata saya, sehingga saya suka sama karakter ini.

Fyra

Gambar Fyra

Si kadal. Dia perempuan. Seekor Engineer. Dia juga temannya Titus yang tidak ada latar belakangnya. Tau-tau disebut oleh Titus dan muncul begitu saja. Desain karakternya mirip karakter yang di animasi Paddle Pop. (Maaf saya lupa namanya).

Yah... begitu saja. Saya tidak tau harus bahas apa dari karakter ini. Karakternya minim info.

Bulpan

Gambar Bulpan

Si kucing gendut. Penjahat utama di film ini. Karakternya lumayan lucu. Sering kena jahilan dari anak buahnya. Contohnya seperti saat naik kapal, dia menyuruh anak buahnya untuk ke kiri berapa derajat gitu, lalu anak buahnya membelokkan kapalnya terlalu kencang jadi si Bulpan ini terpental. Atau saat naik perahu ke sebuah pulau untuk mengejar Titus dkk, dia terpental kedepan saat perahu yang ditumpanginya berhenti menabrak pasir pantai.

Bulpan ini nggak diceritakan latar belakangnya. Pokoknya dia penjahat yang mempekerjakan anak-anak juga buat melakukan kejahatan. Mirip seperti Sherlock Holmes yang mempekerjakan anak-anak di Baker Street untuk mencari info, bedanya ya itu tadi, Sherlock Holmes baik, Bulpan jahat.

Catatan: Saya hanya akan mereview karakter-karakter utamanya saja. Tidak semua karakter.

Kesimpulan

Perlu diceritakan kembali latar belakang dari karakternya. Karakternya tidak terasa seperti karakter, soalnya detail-detail karakternya sedikit.

Dubber

Disini dubber terasa aneh. Seperti terasa dubbing di gua. Saya tidak tau apa karena speaker bioskopnya atau gimana, tapi saya merasa nggak enak. Lalu ada bagian yang nggak pas di mulut karakternya. Ada bagian yang gerakan mulut karakternya seperti ngomong bahasa Inggris tapi di dubbingnya bahasa Indonesia.

Untuk pemilihan kata-katanya, saya tidak terlalu mempermasalahkan mau pakai bahasa Indonesia baku ataupun tidak. Tapi ada bagian yang kata-katanya kurang enak menurut saya. Seperti saat Titus bicara sama orang di tempat kerjanya yang lebih tua, saya menduga dia bosnya. Titus ngomong pakai kata “Kamu” ke orang tua itu, menurut saya lebih bagus pakai kata “Bapak”. Saya agak lupa dialognya sih, sepertinya begini “Jadi kamu me....”, menurut saya enaknya begini “Jadi bapak me....”. Terus di adegan lainnya Titus memanggil orang pakai kata “Tuan”, sangat nggak konsisten.

Yang unik dibagian dubber yaitu dubber dari karakter Bulpan. Tidak seperti lainnya yang pakai kata “Aku” “Kamu”, si Bulpan ini pakai “Saya”, tapi konsisten sampai akhir. Itu yang saya kira unik dan pembeda sama karakter lainnya.

Kesimpulan

Dubbingnya kurang professional. Yang dubber juga saya lihat bukan dari kalangan yang bekerja dibidang dubbing. Kata-kata yang dipakai kurang bagus, banyak yang nggak konsisten.

Latar Tempat

Gambar Kota Steamburg

Disebuah kota bernama Steamburg. Dari nama kotanya juga sudah ketahuan, di filmnya ini ada tema steampunknya, menurut saya begitu. Kotanya dipenuhi asap polusi. Style bangunannya Eropa, seperti tahun 30-an sampai 40-an seperti setting di game Mafia. Bedanya hanya style bangunan. Mobilnya juga sama, mobil-mobil lama.

Cerita

Bercerita tentang seekor tikus bernama Titus yang bekerja di perusahaan koran. Dia suka dengan misteri dan ingin mencari tahu keberadaan Enygma, sebuah barang yang bisa mengeluarkan energi bersih yang bisa merubah keadaan kota.

Secara singkat ceritanya menarik, tapi menurut saya eksekusinya kurang. Penceritaan karakternya kurang. Alurnya juga maju sangat cepat. Yang bikin paling greget yaitu ceritanya nggantung. Saya nggak habis mikir, kenapa sih film Indonesia ceritanya suka nggantung. Kenapa kok sukanya digantung, seperti rasa sukaku padanya. Kenapa nggak bisa bikin cerita yang nggak gantung seperti filmnya Disney Pixar seperti Cars, Toy Story, yang ceritanya full, tapi di sequelnya pun masih bisa relate sama prequelnya.

Film animasi di Indonesia ini susah berkembang, jadi kalau ceritanya gantung terus sequelnya nggak keluar karena nggak ada dananya, terus ya cuma jadi cerita biasa gitu aja, kurang berkesan, yang rugi juga penonton, nggak tau bagaimana terusannya, karakternya, organisasi penjahatnya, dll.

Awal mula ceritanya saya bilang gantung karena karakter Jacob, si pelayan yang berkhianat, ngomong tentang sebuah organisasi penjahat / tempat atau apalah itu yang namanya Clockwork. Tapi info yang dikasih minim banget. Pas terakhir film saat Enygmanya mau dihancurin sama Titus dkk, si Jacob ini kabur. Anak buah Bulpan juga kabur. Tapi salah satu tangan kanannya Bulpan saat kabur melewati Titus dkk itu scenenya berubah jadi slow motion saling tatap tatapan, jadi menurut saya bakal ada sesuatu di kemudian hari. Tapi sampai keluar credit title pun nggak dibahas lagi Clockwork itu apa, si tangan kanan Bulpan itu bagaimana, si Jacob bagaimana, dll. Mungkin ada post credit scene ya setelah credit title, saya juga nggak tau, saya nggak lihat sampai habis. Tapi, kenapa harus gantung ceritanya...

Kesimpulan

Ceritanya menarik. Walaupun kurang di latar belakang tokohnya dan gantung ceritanya. Mungkin ceritanya dibuat segampang mungkin dicerna karena rating filmnya Semua Umur.

Animasi

Ini merupakan salah satu bagian yang paling menarik di review ini menurut saya, karena saya mahasiswa di jurusan animasi. Overall gerakan animasinya lumayan bagus. Pemilihan angle kamera juga menurut saya bagus. Di dalam animasinya ini juga diselipkan prinsip animasi yang sangat kelihatan, yaitu exaggeration atau melebih-lebihkan. Contohnya saat adegan akhir-akhir, saat Bulpan ingin menghancurkan Enygma, dia tersambar listrik. Listriknya menggerakkan badannya dan melemparkannya ke pinggir ruangan di pelabuhan. Setelah itu Bulpan bernyanyi lalu pingsan.

Objek 3D

Saya tidak mengerti, tapi sepertinya objek 3D disini menerapkan sistem LOD (Level of Detail) seperti di game-game 3D. Jadi LOD ini biasanya dipakai di game untuk meringankan performa perangkat. Biasanya di game memakai tiga LOD, yaitu LOD0, LOD1, dan LOD2 (Itu yang saya tau). Jadi contohnya begini, kalau di depan kalian ada peti harta karun, objek yang ditampilkan yaitu LOD0 yang objeknya detail banget. Kalau kalian semakin menjauh, objeknya akan semakin simpel, sampai di jarak pandang terjauhnya pakai LOD2 yang hanya kubus biasa yang diberi material / warna kayu (kalau peti harta karunnya dari kayu).

Di kasus filmnya ini juga sama. Objek yang dekat kamera lebih detail dari objek yang di background. Contohnya saat ada orang bicara di depan kamera, sampai serat baju dan bulunya kelihatan detail, tapi backgroundnya yang bangunan, cuma biasa saja. Kalau misalnya itu makanan, rasanya hambar. Kurang detail.

Gambar Titus, Bobit, dan Fyra

Contoh lainnya saat Bulpan terpental jatuh ke pasir pantai, pasirnya terangkat menempel di sekitar mulutnya Bulpan, tapi hal berbeda saat Bulpan bersama anak buahnya lari ataupun Titus dkk lari diatas pasir pantai, pasir pantainya kurang detail materialnya. Seperti hanya tempelan biasa. Tidak memakai konsep material PBR (Photorealistic Based Render), yang seharusnya didalam material ada berbagai macam gambar seperti base map, normal map, height / bump map, displacement map, dll. Yah, paling nggak kalau nggak bisa bikin pasirnya realistis ada jejak kakinya pas diinjak ya ditempel pakai PBR material, tentu saja yang resolusinya besar biar detail.

Gambar Titus bersiap-siap melempar pipa besi

Walaupun tidak semuanya begitu, ada juga scene dimana yang kameranya dibawah, mengarah keatas, objek didekat kameranya kurang detail, tapi objek karakternya detail. Contohnya saat Titus bertemu dengan Bobit. Disitu karakter Titus & Bobit detail, tapi jalan didepannya jelek.

Ngomong-ngomong tentang objek dari karakternya. Ada perbedaan yang mencolok antara karakter utama dan karakter figuran. Hal pertama yang bisa dilihat yaitu bajunya. Bajunya Titus detail banget materialnya, sampai seratnya keliatan, beda banget sama karyawan di tempatnya bekerja yang flat begitu saja.

Gambar Titus didalam Trem [Ket: Saat Titus didalam Trem, tapi bisa dilihat bajunya Titus dan karakter dibelakangnya detailan mana.]

Selain dari baju dan ada seperti konsep LOD game. Di film ini saya rasa juga pakai konsep NPC (Non-Playable Character). Konsep ini dipakai biasa untuk game, yaitu karakter yang nggak bisa dimainkan, contohnya seperti pejalan kaki. Nah biasanya juga di game, NPC / orangnya sama atau mirip-mirip gitu muka, baju, badannya. Biasanya sering saya liat di game RPG, yang 2D biasanya. Jadi, di film ini juga sama, saat scene kotanya mulai chaos, hancur, warga kota pada lari-lari, kabur, disitu keliatan banyak karakter mirip dan dipakai langsung / recyclenya itu kurang bagus, jadi karakternya muncul beberapa kali. Ini yang saya kurang suka. Seperti kurang niat gitu bikin filmnya.

Gambar Kambing / Domba dan Kucing [Ket: Saya lihat kambing dan kucing itu beberapa kali di scene saat warga kota lari & panik.]

Grafis / Material

Di film ini grafisnya kurang konsisten. Material yang dipakai untuk objek 3Dnya seperti game di PlayStation 1, yaitu era tahun 90-an. Kelihatannya cuma gambaran biasa, kurang realistis. Ada juga beberapa material yang detail, tapi kurang cocok dipasangkan sama material PS 1-nya. Selain itu, material baju untuk karakter juga dibedakan, karakter utama lebih detail. Bisa dibilang grafisnya masih kalah jauh sama film negara tetangga contohnya film Boboiboy The Movie ataupun Upin Ipin The Movie. Apalagi sama film Disney Pixar...

Selain grafisnya yang seperti PS 1, banyak juga material yang hanya flat begitu saja. Contohnya tiang lampu jalan. Tiang lampu jalannya terbuat dari besi, tapi tidak terlihat seperti besi, kurang memiliki unsur metal. Lalu tidak ada surface imperfections, seperti goresan atau hal lainnya yang bisa membuat objeknya lebih real dan punya cerita.

Gambar Bulpan berdiri dengan gagahnya diatas perahu [Ket: Material kayunya terlihat jelas pengulangan gambarnya (pattern) serta seperti material kayu di game-game lama.]

Gambar anak serigala [Ket: Contoh Surface Imperfections yaitu besi dibelakang yang terlihat goresan & lubang-lubangnya.]

Sekarang pindah ke material gelas dan air. Gelasnya menurut saya nggak seperti gelas dari kaca, tapi plastik. Untuk airnya aneh, kayak kurang realistis. Nggak tau ya, saya merasakannya kayak bukan air. (Air yang saya maksud disini saat Titus dkk minum disebuah restoran).

Setelah benda-benda yang ada di bumi, kita pindah ke langit. Material dari langit menurut saya bagus. Sepertinya memakai skydome yang gambar material langitnya seperti awan dan warna biru langitnya di paint di aplikasi lain seperti photoshop.

Gambar Bulpan berdiri dengan gagahnya diatas perahu

Saya sebenarnya nggak terlalu nge-fans sama yang begitu. Saya lebih ke realistis, jadi pakai color temperature untuk menentukan warna langitnya. Kalau siang ya, disekitar 6500K (Kelvin) keatas. Setelah itu awannya dibikin manual. Memang jadi lebih berat kalau di render nantinya. Tapi hasilnya worth it menurut saya. Atau nggak pakai HDRI (High Dynamic Range Image), yaitu gambar 360 derajat yang didalamnya ada data intensitas cahayanya.

Pencahayaan

Lighting disini tidak terlalu saya permasalahkan. Menurut saya sudah bagus. Cahaya-cahaya seperti lampu saya lihat seperti ada efek “Bloom”-nya, jadi terlihat terang. Untuk warna lampunya mungkin saya rasa terlalu kuning, walaupun begitu tapi masih bagus.

Gambar ruangan

Simulasi

Dibagian ini mencakup efek ataupun gerakan animasi dari asap / awan, air, dan api.

Asap / Awan

Untuk asap saya kira pas banget sama kota Steamburg yang penuh polusi, jadi asapnya hitam pekat. Gambar Kota Steamburg 2

Untuk awan, terutama yang di background langit, saya menduga nggak pakai simulasi untuk membuatnya, jadi nggak se-realistis seperti asap.

Kecuali awan di scene dibawah ini. Saat pesawat terbang diantara awan, awan-awannya keliatan lebih realistis daripada gambar awan diatas. Namun, itu awan yang di foreground (depan kamera), yang di background saya kira masih sama, pakai skydome yang materialnya di paint di aplikasi lain seperti Photoshop. Gambar pesawat Fyra yang dikejar oleh robot pelindung pulau Enygma [Ket: Gerakan animasinya cepat, jadi gambarnya terlihat pixelated / kotak-kotak saat di screenshot.]

Air

Gerakan airnya menurut saya bagus. Cuma mungkin kurang seperti air materialnya. Kekurangan lainnya yaitu sepertinya airnya terlalu pekat, kurang encer. (Yang saya maksud air yang kurang encer itu saat adegan dimana Titus dkk minum disebuah restoran).

Api

Ini yang menarik. Api disini jelek banget, seperti di sinetron-sinetron Indonesia. Gambaran apinya nggak cocok dan kurang menyatu banget sama material disekitarnya. Saya menduga itu tempelan menggunakan aplikasi lain contohnya aplikasi After Effect, bukan buatan murni di aplikasi 3D.

Efek

Contoh efek disini yaitu aliran listrik dan ledakan. Untuk aliran listrik saya lebih suka yang dibagian Enygmanya, yang dibagian di kabel-kabel tiang listrik saya kurang suka. Alasannya seperti beda gitu sama yang listrik di Enygma. (Maaf alasannya kurang berbobot & aneh). Walaupun begitu, efek listriknya masih bagus menurut saya.

Untuk efek ledakan... hah, ini yang bikin saya gregetan, bingung, kenapa filmnya ditampilkan dengan efek ledakan seperti di sinetron... Efek ledakannya disini sama semua, mau besar, kecil, sama semua gambarnya. Semuanya seperti di sinetron, saya sangat kecewa.

OST / Theme Song

Saya sangat suka sama OST-nya, cocok banget sama tema detektif.

Sound Effect dan Musik Latar

Sudah bagus, tapi terkadang musik latarnya terlalu besar suaranya sehingga menutupi suara dubbingnya.

Versi Bahasa Inggris

Sepertinya film Titus : Mystery of the Enygma ini punya versi bahasa Inggrisnya. Hal itu diperkuat oleh video yang di upload oleh MNCContents Indonesia ke YouTube, namun sayangnya bagian kolom komentar dinonaktifkan. Di dalam videonya ada banyak perbedaan yang bisa membuat film ini lebih bagus. Contohnya di material pasir pantai yang dipakai lebih terlihat realistis. Mari kita lihat perbedaan screenshotnya: [Ket: Pasir pantai versi indonesia]

[Ket: Pasir pantai versi inggris]

Gambar Titus sedang bersiap-siap melemparkan pipa besi di video trailer berbahasa Inggris [Ket: Pasir Pantai versi Inggris]

Gambar Titus sedang bersiap-siap melemparkan pipa besi di video trailer berbahasa Indonesia [Ket: Pasir Pantai versi Indonesia]

Saya menduga kalau objek 3D yang dipakai untuk pasir pantainya (yang versi Indonesia), entah itu plane atau cube atau objek lainnya, tidak di UV Unwrap serta tidak di subdivide, sehingga bentuk materialnya jadi gitu (aneh) dan nggak kelihatan bentuk pasirnya. Perbedaan lainnya: Gambar Kota Steamburg dalam video trailer berbahasa Inggris [Ket: Kota Steamburg di video versi Inggris. Pencahayaan lebih terang. Bangunan yang ditempat jauh terlihat lebih detail.]

Gambar Kota Steamburg dalam video trailer berbahasa Indonesia [Ket: Kota Steamburg di video versi Indonesia. Pencahayaan lebih dark. Bangunan ditempat yang jauh tidak terlihat detail.]

[Ket: Bulpan & anak buahnya sedang mengejar Titus. Ada di video trailer versi Indonesia.]

[Ket: Voila! Tiba-tiba banyak pohon yang tumbuh saat Bulpan & anak buahnya sedang mengejar Titus di trailer versi Inggrisnya.]

Ket: Kedua screenshot diambil dari video berosulusi sama, yaitu 1080p.

Lalu kita pindah ke bagian dubbing. Saya lebih suka dubbing berbahasa Inggrisnya karena lebih pas sama gerak bibirnya, lebih natural.

Selain itu ada juga beberapa bagian film yang tidak saya lihat ketika saya menontonnya di bioskop. Saya tidak tau apa karena saya lupa, tapi rasanya saya tidak melihat adegannya. Gambar Bobit bersiap-siap mengambil kartunya [Ket: Seingat saya adegan ini tidak ada dan langsung ke adegan digambar dibawah]

Gambar Bobit sedang mengambil kartunya

Lalu saat Bulpan jatuh dari kartu yang dipijaknya. Ada bagian yang saya kira dipotong dan tidak ada saat menonton dibioskop. Awalnya begini:

Gambar Bulpan jatuh dari atap

Terus langsung begini (dia ditarik keatas): Gambar Bulpan ditarik keatas oleh anak buahnya

Tidak ada dua adegan ini: Gambar Bulpan jatuh dari atap dengan angle kamera dari atas

Gambar Bulpan jatuh dari atap dengan angle kamera dari bawah

Kesimpulan Penulis

Saya sendiri nggak mau menyalahkan animator dibalik film ini. Saya rasa animatornya juga hebat-hebat. Mungkin yang bisa saya salahkan yaitu perusahaan yang membuat film ini mungkin belum bisa menyediakan komputer yang mumpuni sehingga banyak kekurangan di filmnya. Kekurangan terbesarnya yaitu di kurang detailnya objek 3D dan material yang digunakan kurang konsisten sesuai stylenya serta kurang realistis. Grafisnya pun seperti game PS 1. Efeknya masih belum siap untuk film layar lebar. Dibagian suara seperti dubbing, lagu tema, efek suara, dan musik, tidak ada kendala yang signifikan, hanya dubbingnya kurang pas. Harapan saya semoga animasi Indonesia lebih berani lagi membuat animasi yang lebih bagus, yang kreativitas & idenya dikeluarkan seliarnya, Ide tidak terkekang budget, dan enak ditonton semua kalangan, termasuk orang yang mengerti animasi.

Skor saya: 4.75/10 – Not bad but not good

Akhir Kata

Terima kasih sudah membaca review saya. Kalian juga bisa mengunduh review ini dalam versi PDF disini. Saya mohon maaf jika ada kesalahan. Jika ada kritik & saran silahkan kirim ke alamat yang saya kasih diawal review. Sekian, sampai jumpa di review animasi lainnya. ;–)

 
Read more...

from theblacksquid's random thoughts

Writers will write.

“I have to admit that it makes me feel like I don't want to write anymore.”

That was something I remember telling one of my friends after they said that they don't read what I write. Or can't. Or was it “can't/don't read all that you wrote”? The exact flow of the conversation escapes me. It's been a few days since the actual exchange.

But the direct, face-to-face admission of disinterest in your work by someone whose opinions you trust stings. That's most of what I remember, if I'm being honest. It's the emotion. How something made you feel. It's that part you remember clearly.

So why did I just post two articles over the past three days?

Too much caffeine in my bloodstream, for one.

And the fact that I've already tied up my identity with what I do. As bad of an idea as that is.

Which brings to mind a brief topic that was brought up in a reading group discussion: What if the day comes that productivity becomes divorced from labor? What if people, by automation, can just exist???

I feel the answer lies in who gets to own the automated machinery. And if you've been paying attention to what kind of things I write, (funny mentioning that, given the context) you'd already have a rough idea of who I'd want to be in charge.

However, I'm more interested in knowing what would life be like. How would people go about their daily lives? Would they be occupied by indulging themselves in various luxuries and exotic experiences? COMMUNAL ORGIES!!! Would an explosion of different, obscure forms of hobbies occur? I feel that in some form or another, certain industries and trades would not be automated. Not because they would inherently require the human touch, no. But most likely because, like me, people need something to do to help realize themselves. And I'm not talking about people taking up artisanal mason-jar decorating! I'm talking about people doing actual jobs because they feel like that's what they're supposed to do. That doing it gives their lives meaning. That doing it helps them make their lives meaningful.

I'm imagining in a not-so-near dystopian future where people would subsist on a Universal Basic Income of some kind. Life would become unbearably dull. Your Universal Income only allows you to survive at a bare minimum, preventing the accumulation of wealth and property. This allows the megacorporations to buy up all the property and further secure their hegemony. The only option in this gray, barely-living life is to get so high off your brains that you become desensitized to it. Or begin a revolt to seize the means of production!

Or even better: Begin a revolt to seize the means of production while being extremely high on drugs!!!

And I'm willing to bet that it would be because doing stuff, farming, construction, all the way to medicine and writing, are all things that humans are just naturally inclined to do, with or without pay. With or without the approval of large States and multinational corporations. It's just an expression of our shared nature.

So regardless of whether or not anyone reads what I write, I'm still gonna write. Because that's just what I do.

 
Read more...

from theblacksquid's random thoughts

The Filipino in the face of Disaster

On the afternoon of January 12 the Taal Volcano began spewing ash and smoke from its ancient caldera. Within hours a massive evacuation effort was launched to get people out of harm's way. A comrade was among the people fleeing the scene. Government offices and schools were understandably closed due to the disaster, but BPO centers around the areas most affected by the ensuing ashfall had the gall to call their workers back to work.

We've seen this story before:

A calamity or some other misfortune affects a large area of the nation and we get reports of people calling in to work being praised for “their dedication to their jobs” despite the obvious risks. The true story is most likely that they literally couldn't afford to be gone that shift. They might not get administrative sanctions or attendance memos for being absent, though that still happens, but they still won't be paid for that workday. No work, no pay, right? But, this isn't to say that the supervisors and managers frantically calling their employees to work are bad people. This is bigger than any one person.

When you have someone who lives completely on what they make per hour worked, they have little choice but to show up for work. This is the greatest triumph of modern capitalism over the human spirit. I remember someone calling money “survival notes” because it literally does mean whether or not you survive in this society. Because we live inside it! It's become a very efficient way for the rich business owner and investor to value profits over human lives.

With slavery, you own the person, end of discussion. In feudalism, you own the land, you get part of the produce of that land (and a priority pick of any of the fair maidens therein, not like they have a say in the matter!). But with capitalism? Oh, boy, you not only own the place where they work, you also own the places where they spend their hard-earned survival-notes at!

That's how you get people to show up at work soaking in rainwater after braving the elements for two hours to get to a job that pays less than a hundred pesos an hour. That's how you get people to stay to watch over what little property they have in the face of a raging volcano. That's how you get people to value profit over human lives, most especially if that life is their own.

So no, it isn't surprising that there'd be people who'd come to work on the apocalypse. Capitalism has made our world so absurd that it would actually make sense.

So here's to the working-class heroes who instead of going to work went out to help in whatever way they could, even if it's something as natural as getting your family to safety.

 
Read more...

from trulyqwi

I remember the gush of anxiety every time a teacher at the start of school year would utter these words: “Let's go around the class and introduce ourselves.”

I struggle to define myself for me. In school, I made up answers.

What about now? Who am I?

Am I defined by the labels I choose for myself – a queer trans woman? Maybe even where I come from – south Asia?

Am I defined by the education or beliefs I have – an atheist with a degree in business? Or is it my career or my hobbies outside of work – writing code, exploring music, reading the news, and shopping?

Is it my feelings — feelings of unfairness, of deprivation, but also in the same vacuum my desire to accept myself more as I grow up? Feelings of wanting a more just world? The lust to travel and experience new things, hold on to that feeling of the-first-time-I-felt-this and eat good food?

Yes – I do have all of these in my life. Maybe you share some of this with me!

I guess... all I am, is normal. I like this definition, even if just for a fleeting moment.


For the first time in my journey, I hope to write to an audience that doesn't normally interact with trans people. To let you know what I have been through, go through, and how you — as a person with greater privilege than me — sometimes shape my life and my choices.

 
Read more...

from theblacksquid's random thoughts

Identity and Belonging in an age of Social Media

Atty. Oli Reyes mentioned in a viral tweet how foreign youtubers were taking advantage of the Filipino need for global validation to garner more views – and therefore, ad revenue. But what is going on here? What does that mean for us as people? Does anyone care?

“Never attribute to malice what can be adequately explained by incompetence.”

  • Hanlon's Razor

I can't really call what these content creators did as “incompetent”. Neither are they also likely to be malicious either. It's not like there's some weird cabal of Youtubers that go “Hey! This demographic is an easy mark”.

At least, I hope there isn't. LOL.

Although the lack of intentionality behind this phenomenon might actually make it all worse.

Love him or hate him, Slovenian Philosopher Slavoj Zizek considers ideology as not just the amalgam of ideas and ideals, most especially today, as an unconscious process that serves as a series of justifications and spontaneous symbolic acts which support abstract authorities. We do things and follow certain social mores, all the while not seeing how it keeps things the way they are. People following a trend is just part of that.

But what is “That”?

“The whole life of those societies in which modern conditions of production prevail presents itself as an immense accumulation of spectacles. All that was once lived has become mere representation...”

”...The Spectacle is not a collection of images; rather, it is a social relationship between people that is mediate by images.”

  • Guy Debord, “The Society of the Spectacle”, emphasis mine

When French revolutionary and artist Guy Debord wrote those lines back in 1967, he was talking about the Press, the Movies and the Radio. In the age of Vainstagram, Facestalk and that little annoying bird, it becomes more and more relevant. Watching foodbloggers cook instant ramen with melted cheese and barbecued pork bellies so you don't have to. Seeing people travel to distant places to live vicariously through them. Feeling proud about your nation winning in the Olympics. Living the life of your dreams becomes a matter or sending “Likes” or sharing their posts on your own social media page. Living becomes a matter of consumption. Consumption.

Consumption. Brings up images of cows grazing out on pasture, don't it?

Labels for the trees only benefit the logger.

The Spectacle, in the words of Debord, creates labels and “images” for us. The entire process of demand management depends on the management of demographics, which are in terms of The Spectacle, a social relationship that is mediated by images. Youtuber Peter Coffin words it cleverly in his video Somewhere to Belong:

“Instead we're presented with an identity and a 'community' that keeps us on the path of consumption that we're already on... It's birthed ways to convince people not to band together in a meaningful way, painting the individual as the prime concern and authority – Ultimately preaching that the basis of community is the validation of the self.”

Like what Peter says later – validation in and of itself isn't a bad thing. But the only validation that we will get from the current order is the kind that gets us to buy more. Watch more. Eat more. We get divided into these little cults of cultivated identities. And like crops and livestock, these identities are cultivated in order to be harvested later in some form.

Nation-States like the Republic of the Philippines are among the biggest culprits in cultivating identities for profit. Historian and Political Scientist Benedict Anderson calls nations “Imagined Communities”. This is especially true for the Philippines in that before the Spanish conquest, the inhabitants of what would come to be known as the Philippines lived in semi-autonomous communities that band together according to need. Although there is a proto-state formation in the case of the Kingdom of Maynila, but it's an outlier.

It served its purpose in building a united front against the Spanish, and then against the American and Japanese occupations. But in today's fully-integrated global capitalism, the oppressive force is no longer a single nation of colonizers. It has become a network of centers of capital around what is known as the “Developed Nations”, The United States, Western Europe, Japan, and increasingly, China. Gone are the days of coming in guns blazing to suppress a native population to grab land and resources. They'll go to your World Bank conferences and your United Nations meetings to do it for you! Nationalities have become nothing more than a useful illusion to get people to work together in the interests of a global elite. How else can you get people to lay down their lives to make a few rich perverts richer? “Serve your country!”

But, before I get misrepresented, this is not a call to a past “Golden Age” before global capital, before social media. This is a reminder to be more aware and vigilant about how our actions and patterns of consumption feed into the agendas of the ultrawealthy and ultrapowerful. The cat's out of the bag and the bad guys have already taken over. All that's left to do now is to weaken the structures that hold the dystopia in place. Unionize workplaces. Build communities. Find. The. Others.

A storm is coming and building the infrastructure needed to survive it with people that will have our backs is critical.

But we might be too busy watching rich foreigners eating Jollibee to do it in time.

 
Read more...

from Goule de Varou

~ Photographie ~

Clichés estivaux d'un très dépaysant moment passé à Giverny, l'année dernière.

Les nénuphars du peintre, 1 –> Jardin de la Fondation Claude Monet, Giverny Les nénuphars du peintre, 1

Les nénuphars du peintre, 2 –> Jardin de la Fondation Claude Monet, Giverny Les nénuphars du peintre, 2

Les arbres de Claude, 1 –> Jardin de la Fondation Claude Monet, Giverny Les arbres de Claude, 1

Les arbres de Claude, 2 –> Jardin de la Fondation Claude Monet, Giverny Les arbres de Claude, 2

#photographie #normandie #giverny

© Goule de Varou 2020

 
En savoir plus...

from rethink

Bread and games. What already worked excellently in ancient Rome finds its perfected continuation in the USA. With football, baseball, basketball and ice hockey, four sports keep the Americans happy. And when it comes to food, the country of supposedly unlimited possibilities is making the most of all: oversized portions, over-sugared, fatty and maximally unhealthy. Physically, the well-behaved American already has hard times of it.

In contrast, mental deficits are less measurable in kilograms. On the one hand, simple ways of thinking consist of light structures that are revealed by one-dimensional views, expressions and behaviour. On the other hand, the excessive mantra of being a world leader does not require complicated mental effort because it is simply repeated. In this respect, overloading is unlikely.

Even if under-complex brain circuits themselves are hardly noticeable, they can be a heavy blow to the environment. Loud rumbling, boorish behaviour and giving elephant in the china shop stretch all pain receptors to the limit of tolerance. Although the roots of some of the most influential music styles are rooted in America, there is no carte blanche for them to be cultural outcasts. Indigenous peoples can sing countless laments about this.

There is no doubt that the Americans are extremely annoyed by the fact that so little oil is stored in their territory and that they are therefore dependent on what they consider to be inferior countries. Because their own discoveries can only be elicited from the earth with considerable technical effort and expense, they construct a colourful potpourri of pretended reasons to install a permanent presence in the Middle East by means of military raids.

But how seriously one should take a country that prefers to let masses of innocent children die in rampages rather than to take away the weapons of the simpletons with inferiority complexes and delusions of grandeur? To this end, permanently invoking the right enshrined in the Constitution, but immediately amending it in order to stir up trouble against foreigners?

Can one take seriously a country that indulges uninhibited gluttony but offers no system for the consequences? That does not trust anyone and monitors everything, but demands unconditional allegiance? That proclaimes freedom constantly, but in the fine print expects to yield unbridled profit, otherwise it is adapted to the demands? That declares itself an idol and model capitalist, but people can only tolerate this in a drug frenzy? That can't keep balance and is basically out of money? That demands a senseless wastefulness from all allies, although their misguided use is obvious? That sells actions for one's own end as a pleasure for all, and insults mutates into a defiant infant, missing thanks? That seeks his salvation in space because of plundering and destroying his own home? That closes eyes to its own actions? That reaps only head shaking outside its borders?

No one with regard and intellect submits a lame duck. Threatened with arms or resorting to other drastic means, the world community should isolate them. Perhaps some certain sanity will return then.

#Arms #Deficits #Excessive #LameDuck #USA #Violence #War

(Deutsche Version mit zahlreichen Links)

 
Read more...

from umdenken

Brot und Spiele. Was schon im antiken Rom hervorragend funktioniert hat, findet seine perfektionierte Fortsetzung in den USA. Mit Football, Baseball, Basketball und Eishockey halten gleich vier Sportarten die Amis bei Laune. Und bezüglich Essen wird im Land der angeblich unbegrenzten Möglichkeiten aus dem Vollen geschöpft: übergroße Portionen, überzuckert, verfettet und maximal ungesund. Rein körperlich hat der brave Amerikaner bereits schwer zu schleppen.

Geistige Defizite sind dagegen weniger in Kilogramm messbar. Zum einen bestehen simple Denkweisen aus leichten Strukturen, die durch eindimensionale Ansichten, Äußerungen und Verhaltensweisen zutage treten. Zum anderen erfordert das exzessive Mantra von der Weltführerrolle keine komplizierten mentalen Anstrengungen, da es einfach nachgeredet wird. In dieser Hinsicht ist eine Überbelastung unwahrscheinlich.

Mögen unterkomplexe Gehirnverschaltungen selbst kaum spürbar sein, schlagen sie dem Umfeld schwer auf den Magen. Lautes Gepolter, proletenhaftes Benehmen und Elefant im Porzellanladen geben, dehnen sämtliche Schmerzrezeptoren bis zur Verträglichkeitsgrenze. Liegen in Amerika zwar die Wurzeln einiger prägender Musikstile, resultiert daraus kein Freibrief grundsätzlich Kulturbanausen zu sein. Darüber können indigene Völker unzählige Klagelieder singen.

Zweifelsfrei ärgert es die Amis maßlos, dass in ihrem Territorium so wenig Öl lagert und sie dadurch abhängig von in ihren Augen minderwertigen Ländern sind. Weil sich die eigenen Funde zudem nur mit erheblich technischem Aufwand der Erde teuer entlocken lassen, konstruieren sie ein buntes Potpourri aus vorgeschobenen Gründe, um mit militärischen Überfällen eine dauerhafte Präsenz im Mittleren Osten zu installieren.

Doch wie ernst soll man ein Land nehmen, dass lieber massenhaft unschuldige Kinder durch Amokläufe sterben lässt, als den mit Minderwertigkeitskomplexen und Größenwahnkonflikten behafteten Einfaltspinseln ihre Waffen wegzunehmen? Hierzu permanent auf das in der Verfassung festgeschriebene Recht berufen, selbige aber umgehend ändern, um gegen Fremde zu stänkern?

Kann man ein Land ernst nehmen, das der ungehemmten Völlerei frönt, aber kein System für entstehende Folgen bietet? Das selbst niemanden traut und alles überwachen lässt, aber bedingungslose Gefolgschaft einfordert? Das Freiheit fortwährend proklamiert, aber im Kleingedruckten erwartet, dass sie ungezügelten Profit abwerfen muss, ansonsten den Anforderungen angepasst wird? Das sich zum Vorbild und Vorzeigekapitalist erklärt, die Bevölkerung dies aber nur im Drogenrausch ertragen kann? Das nicht Haushalten kann und prinzipiell Pleite ist? Das eine sinnfreie Verschwendungssucht von allen Verbündeten einfordert, obwohl deren fehlgeleitete Verwendung offenkundig ist? Das Taten zum eigenen Nutzen als Wohlgefallen für alle verkauft und beleidigt zum trotzigen Kleinkind mutiert, bleiben Dankeshuldigungen aus? Das sein Heil im Weltraum sucht, weil es das eigene Heim ausplündert und zerstört? Das die Augen vorm eigenen Handeln verschließt? Das außerhalb seiner Grenzen nur Kopfschütteln erntet?

Niemand mit Achtung und Verstand unterwirft sich einem Versager. Droht dieser mit Waffengewalt oder greift zu anderen drastischen Mitteln, sollte die Weltgemeinschaft ihn isolieren. Vielleicht kehrt dann ein gewisses Maß an Vernunft zurück.

Empfehlenswerte Lektüre:

#Defizite #Gewalt #Krieg #Maßlos #USA #Versager #Waffen

(English Version)

 
Weiterlesen...

from Ein Schritt pro Tag

Wenn ich ein Kind war, habe ich gefunden, dass das Gewitter wunderschön ist. Donnergrollen, Regen, Decke, und heiße Schokolade ist eine schöne Kombination.

Ich bin nicht mehr ein Kind. Ich mag immer noch der Regen, aber es ist jetzt anders.

 
Read more...

from Goule de Varou

~ Musique ~

Kid Colling Cartel Kid Colling © Lugdivine Unfer

Mon groupe de musique folk aura l'honneur d'assurer la première partie de KID COLLING CARTEL lors de sa prochaine venue à la Traverse (Cléon). Pour le bassiste que je suis, ouvrir pour ce redoutable musicien sur une des scènes blues les plus renommées de France est non seulement un challenge mais également la reconnaissance de plusieurs mois/années de travail musical... Hâte !

Samedi 16 mai 2020 – 20h30 JARL (folk/rock – Rouen) KID COLLING CARTEL (blues – Luxembourg) –> La Traverse / Cléon (76) Soirée “Spring Break Blues” / 17€

#musique #jarl #concerts #normandie #cleon

© Goule de Varou 2020

 
En savoir plus...

from Goule de Varou

~ Musique ~

Pour démarrer cette année qui promet d'être riche en évènements musicaux, voici un extrait de mon dernier concert avec JARL, en novembre dernier.

Meilleurs voeux à tou.te.s !

JARL “The common subject (live)” –> 14.10.19 @ La Gare aux Musiques, Louviers

#musique #jarl #normandie #louviers

© Goule de Varou 2020

 
En savoir plus...

from umdenken

Theoretisch befindet sich der sicherste Ort wo? In einem Gefängnis! Zäune, Gitter, dicke Mauern und Wächter passen auf, dass nichts rein kommt und nichts entweicht. Straffe Regeln sorgen für Ordnung und gleiche Bedingungen – idealerweise.

Wie kommen Politiker*innen und viele Menschen nur auf die Idee, Sicherheit mit Freiheit gleich zu setzen und als solche anzupreisen? Niemand würde ein Gefängnis als freiheitliche Einrichtung betrachten – ganz im Gegenteil. Trotzdem streben sie mit aller Macht an, ein solches über alles und jeden zu installieren. Sind wir Menschen bereits so degeneriert, dass selbst haarsträubende Widersprüche/Gegensätze akzeptiert werden?

Exemplarisch wird jede Anonymisierung durch den Stall gejagt. Einerseits wird jede Form der Privatsphäre vollmundig als Schutz des Einzelnen befürwortet, andererseits als Wachstumsrisiko der Wirtschaft geächtet.

Dummerweise trifft Politik weltweit die falschen Entscheidungen. Die Perversion von Absichten löst deswegen überall Gegenreaktionen aus. Aufstand und Rebellion wird zum Alltag, weil korrupte Politiker*innen nicht mehr in der Lage sind, ihr eigenes Handeln realistisch anzuerkennen. Zudem erleichtert ihnen ein gläserner Bürger jede manipulative Arbeit.

Anonymisierung spricht mit gespaltener Zunge. Sinniert von Sicherheit, fordert aber totale Nacktheit. Unterwerfung ist der Preis. Wer diesen nicht bezahlen will, wird ausgegrenzt und bestenfalls als Persona non grata der Öffentlichkeit zum Fraß vorgeworfen. Privat? Widerspricht dem gesellschaftlichen Wohlgefallen, ergo Profit, und ist deswegen verpönt.

#Anonymität #Freiheit #Gefängnis #Privatsphäre #Profit #Sicherheit

(English Version)

 
Weiterlesen...

from rethink

Theoretically the safest place is where? In a prison! Fences, bars, thick walls and guards make sure that nothing gets in and nothing escapes. Tight rules ensure order and equal conditions – ideally.

How do politicians and many people get the idea to equate security with freedom and to promote it as such? Nobody would consider a prison as an institution of freedom – quite the contrary. Nevertheless, they strive with all their might to install one above everything and everyone. Are we humans already so degenerated that even hair-raising contradictions/antagonisms are accepted?

Exemplarily every anonymization is chased through the stable. On the one hand, every form of privacy is fully advocated as protection of the individual, on the other hand, it is outlawed as a risk to economic growth.

Unfortunately, politicians around the world are making wrong decisions. The perversion of intentions therefore triggers counter-reactions everywhere. Uprising and rebellion become a daily occurrence because corrupt politicians are no longer able to realistically acknowledge their own actions. In addition, a transparent citizen makes any manipulative work easier for them.

Anonymization speaks with split tongue. Means safety, but demands total nakedness. Submission is the price. Anyone who does not want to pay this price is excluded and, at best, thrown to the public as persona non grata. Private? Contradicts social welfare, ergo profit, and is therefore frowned upon.

#Anonymity #Freedom #Prison #Privacy #Profit #Safety

(Deutsche Version)

{Translated with the help of Deepl}

 
Read more...

from Goule de Varou

~ Photographie ~

Photos d'un des lieux les plus envoûtant de Rouen, le Jardin des Plantes.

Sequoia –> Jardin des Plantes, Rouen Sequoia

Pierre runique commémorative du Jardin des Plantes –> Jardin des Plantes, Rouen Grand monument en pierre runique

L'Appel de Cthulhu –> “Octopus” (Laurent Martin), Jardin des Plantes, Rouen L'Appel de Cthulhu

#photographie #normandie #jardindesplantes #rouen

© Goule de Varou 2020

 
En savoir plus...